Belajar dari Jepang hingga Belanda, Calon Manajer KDMP Butuh Skill Bisnis, Bukan Retret Fisik

Ringkasan AI
Ringkasan
Anggota Komisi VI DPR, Rivqy Abdul Halim, mendesak pemerintah mengevaluasi desain rekrutmen calon manajer koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) setelah lima peserta meninggal dalam kegiatan seleksi. Ia menilai kompetensi utama manajer koperasi adalah kemampuan manajerial, integritas, dan literasi keuangan, bukan ketahanan fisik ekstrem. Rivqy mengusulkan pengurangan durasi retret dan fokus pada praktik lapangan serta magang, mencontoh Jepang, Korea Selatan, dan Belanda yang membangun koperasi dengan penguatan SDM profesional.
Dampak
Desakan ini dapat mendorong perubahan kebijakan rekrutmen agar lebih mengutamakan keselamatan dan kompetensi bisnis peserta. Jika diadopsi, kualitas SDM pengelola koperasi desa akan meningkat, namun pemerintah perlu segera merevisi prosedur seleksi untuk mencegah tragedi serupa.
Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, mendesak pemerintah mengevaluasi total desain rekrutmen calon manajer koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Desakan ini menyusul meninggalnya lima orang peserta dalam rangkaian kegiatan Seleksi Penerimaan dan Pelatihan Inti (SPPI).
Pria yang akrab disapa Gus Rivqy itu menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi tersebut. "Saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga para peserta yang meninggal. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT," ujarnya di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Menurut Gus Rivqy, program strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa seharusnya tidak dibayangi proses seleksi yang berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa. Ia menegaskan kompetensi utama seorang manajer koperasi terletak pada aspek manajerial, integritas, dan literasi keuangan, bukan pada ketahanan fisik berlebihan.
Ia menyoroti durasi retret selama satu bulan yang dinilai terlalu lama. "Retret selama sebulan bagi calon manajer cukup panjang. Setelah itu masih ada pelatihan manajerial 15 hari. Sebaiknya durasi retret dikurangi, fokus pada skema manajerial saja," tegasnya.
Gus Rivqy mengusulkan pembekalan lebih menitikberatkan pada praktik lapangan, magang, dan pendampingan mentor profesional. Ia mencontohkan Jepang, Korea Selatan melalui gerakan Saemaul Undong, serta Belanda yang sukses membangun koperasi dengan penguatan kapasitas SDM dan profesionalisme bisnis.
"Indonesia perlu mengadopsi praktik terbaik tersebut. Program koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan berhasil jika dikelola SDM yang profesional, berintegritas, memahami bisnis, dan dibina berkelanjutan. Yang terpenting, tidak boleh ada lagi peserta kehilangan nyawa dalam proses menyiapkan pemimpin koperasi masa depan," pungkasnya.

