Kopdes Wonokerto Tembus Omzet Rp 260 Juta, Begini Strateginya

Ringkasan AI
Ringkasan
koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Wonokerto, Pasuruan, naik dari modal awal di bawah Rp 3 juta dan 26 anggota menjadi koperasi dengan omzet gabungan Rp 200 juta hingga Rp 260 juta per bulan. Usaha utamanya adalah gerai sembako dan sarana produksi pertanian, yang mulai berkembang pesat setelah memperoleh pembiayaan LPDB Rp 864,4 juta.
Sebelumnya omzet koperasi belum mencapai Rp 50 juta per bulan. Pertumbuhan ini didorong sistem konsinyasi awal, penataan gerai dengan pendampingan ritel, pemasaran digital, dan perluasan produk dari UMKM desa.
Dampak
koperasi ini menekan biaya belanja warga dan membuka pasar bagi produk UMKM setempat. Warung sekitar juga diajak menjadi anggota agar tetap bisa kulakan dengan harga bersaing.
Bagi petani, koperasi mempermudah akses pupuk dan pestisida tanpa harus keluar desa. Ke depan, KDMP Wonokerto menyiapkan budidaya ikan dan kerja sama program Makan Bergizi Gratis.
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, berkembang pesat setelah memulai usaha dari modal yang sangat terbatas. Saat dibentuk pada April 2025, koperasi ini hanya memiliki sekitar 26 anggota dengan dana awal kurang dari Rp 3 juta. Kini, KDMP Wonokerto mengelola dua unit usaha, yakni gerai sembako dan sarana produksi pertanian, dengan omzet gabungan sekitar Rp 200 juta hingga Rp 260 juta per bulan.
Ketua KDMP Wonokerto, M. Yusril Suhendra, menjelaskan koperasi memulai aktivitas secara bertahap dengan memanfaatkan gedung serbaguna milik desa yang sebelumnya sudah dibangun menggunakan anggaran desa. Pada tahap awal, koperasi memakai sistem konsinyasi bersama pemasok seperti Bulog dan ID Food karena belum memiliki modal cukup untuk membeli stok barang. Komoditas yang dijual antara lain beras, gula, minyak, air mineral, dan es krim.
Perkembangan usaha melonjak setelah koperasi memperoleh pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Dana yang semula diajukan sebesar Rp 1,3 miliar disetujui menjadi Rp 864,4 juta dan cair pada September 2025. Setelah itu, gerai koperasi ditata dengan pendampingan konsultan ritel dan resmi beroperasi penuh pada akhir Oktober 2025.
Sejak saat itu, jumlah barang bertambah dan aktivitas perdagangan meningkat signifikan. Yusril menyebut omzet koperasi sebelum pembiayaan LPDB belum mencapai Rp 50 juta per bulan. Setelah dua unit usaha berjalan, omzet naik hingga kisaran Rp 260 juta per bulan. Gerai sembako menjadi penyumbang terbesar karena kebutuhan pokok paling banyak dicari warga, dengan penjualan harian sekitar Rp 7 juta sampai Rp 9 juta.
Selain melayani belanja warga, koperasi juga membuka akses pasar bagi UMKM sekitar desa. Sejumlah pelaku usaha kecil menitipkan produk melalui koperasi, seperti asinan mangga, cokelat karakter, es mambo, makanan ringan kemasan ulang, telur asin, dan keripik pisang. Koperasi juga mengajak warung sekitar untuk bergabung sebagai anggota dan memanfaatkan koperasi sebagai tempat kulakan.
Dengan pola ini, warung tetap bisa menjual kembali barang dengan harga bersaing, sementara warga memperoleh harga yang lebih terjangkau. Selain itu, KDMP Wonokerto menyediakan sarana produksi pertanian seperti pupuk dan pestisida, sehingga petani tidak perlu lagi membeli kebutuhan tersebut ke luar desa. Koperasi juga memanfaatkan TikTok, Instagram, dan WhatsApp untuk promosi, layanan komunikasi, serta informasi promo. Ke depan, pengurus berencana mengembangkan usaha budidaya ikan dan menjajaki kerja sama dengan program Makan Bergizi Gratis.



