Omzet Rp 3,5 Juta Sehari, koperasi Merah Putih di Semarang Sempat Dituding Matikan Pedagang

Ringkasan AI
Ringkasan
koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Lodoyong, Kabupaten Semarang, mencatat omzet sekitar Rp 3,5 juta per hari. koperasi ini sempat dituding mematikan pedagang kecil karena menjual kebutuhan pokok lebih murah dari pasar.
Ketua koperasi, Tri Sasmiarti, menegaskan koperasi justru menggandeng pedagang melalui 12 agen di sejumlah RW dan 23 mitra UMKM. koperasi berperan sebagai pemasok grosir dari pabrik dan BUMN, sehingga warung dan pedagang tetap mendapat margin keuntungan.
Dampak
Model ini membuat pelaku usaha lokal tetap terlibat dalam distribusi barang, sementara warga memperoleh harga yang lebih kompetitif. Sejumlah pedagang pasar juga mulai mengambil stok dari koperasi karena harga lebih rendah.
Perkembangan koperasi ini turut menarik perhatian DPRD Kabupaten Semarang. Dalam sekitar sembilan bulan berbadan hukum, jumlah anggotanya naik dari 3 menjadi 157 orang.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Lodoyong di Kabupaten Semarang mencatat omzet sekitar Rp 3,5 juta per hari. Namun, koperasi ini sempat dituding mematikan usaha pedagang kecil karena menjual kebutuhan pokok dengan harga lebih rendah dibandingkan pasar.
Ketua KDKMP Lodoyong, Tri Sasmiarti, menegaskan koperasi tidak memosisikan diri sebagai pesaing warung atau toko kelontong. Menurut dia, koperasi justru menggandeng pedagang dengan membentuk agen di setiap RW agar distribusi barang tetap melibatkan pelaku usaha di lingkungan sekitar.
Tri menjelaskan, koperasi memilih menjadi pemasok barang dengan harga grosir karena memperoleh pasokan langsung dari pabrik dan badan usaha milik negara. Melalui skema itu, pemilik warung tetap bisa mendapat keuntungan karena berperan sebagai agen yang menjual kembali barang kepada masyarakat.
Saat ini, KDKMP Lodoyong telah memiliki 12 agen di sejumlah RW serta 23 mitra usaha mikro, kecil, dan menengah. Para agen mengambil barang dari koperasi, sementara UMKM di kampung tersebut juga memanfaatkan pasokan dari sana karena harganya lebih murah dari harga pasar.
Tri menambahkan, para agen biasanya berbelanja dalam kisaran Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta untuk kebutuhan toko maupun hajatan di lingkungan masing-masing. Sejumlah pedagang pasar juga mulai mengambil stok barang dari koperasi karena harga yang ditawarkan lebih kompetitif.
Perkembangan KDKMP Lodoyong turut menjadi perhatian Komisi B DPRD Kabupaten Semarang. Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, Said Riswanto, menyebut koperasi itu tumbuh cukup pesat meski baru memiliki badan hukum sekitar sembilan bulan. Jumlah anggota koperasi pun meningkat dari tiga orang menjadi 157 anggota.



