Menkop Ferry Dorong koperasi Masuk Industri Gula, Bidik Swasembada

Ringkasan AI
Ringkasan
Menteri koperasi Ferry Juliantono mendorong koperasi masuk ke industri gula nasional melalui kemitraan antara koperasi KANA Lautan Berkat, koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri, koperasi petani tebu, dan PT Indogula Jayabaya di Kediri, Jawa Timur. Kerja sama ini diproyeksikan mempercepat target swasembada gula konsumsi pada 2028, mengingat produksi nasional baru mencapai 2,67 juta ton dari kebutuhan 9,1 juta ton per tahun.
koperasi akan berperan sebagai offtaker yang menjamin penyerapan hasil panen petani tebu sekaligus memperkuat posisi tawar mereka. Kementerian koperasi melalui LPDB membuka akses pembiayaan, sementara produk gula dapat didistribusikan melalui jaringan koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Pengembangan juga mencakup industri turunan tebu, seperti kecap.
Dampak
Inisiatif ini diharapkan memperluas keterlibatan petani tebu dan tenaga kerja lokal dalam rantai industri gula, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor. Pembiayaan LPDB membuka peluang pengembangan koperasi modern yang terhubung dengan industri nasional dan pasar global.
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan koperasi harus naik kelas dan menjadi pelaku utama dalam rantai industri gula nasional. Penegasan itu disampaikannya saat menyaksikan penguatan kemitraan antara Koperasi Konsumen KANA Lautan Berkat, Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri, koperasi petani tebu, dan PT Indogula Jayabaya di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Menurut Ferry, kemitraan antara petani, koperasi, dan industri menjadi kunci untuk mempercepat target swasembada gula konsumsi yang ditetapkan pemerintah pada 2028. Ia mengungkapkan produksi gula nasional hingga 2025 baru mencapai sekitar 2,67 juta ton, sementara kebutuhan nasional mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun. Kesenjangan tersebut menunjukkan masih besarnya peluang peningkatan produksi tebu dan gula dalam negeri.
Ferry meminta koperasi yang terlibat dalam industri gula memperluas partisipasi petani tebu dan memprioritaskan tenaga kerja lokal agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Ia menilai persoalan utama petani tebu saat ini bukan hanya soal produksi, melainkan juga kepastian pasar, penyerapan hasil panen, dan keberlanjutan usaha. Dalam kondisi tersebut, koperasi memiliki posisi strategis sebagai offtaker yang menjamin penyerapan hasil panen sekaligus memperkuat posisi tawar petani.
Model kerja sama yang dibangun Koperasi KANA bersama koperasi petani dan PT Indogula Jayabaya dinilai Ferry dapat menjadi contoh pengembangan koperasi modern yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri nasional. Ferry juga mendorong koperasi masuk lebih jauh ke sektor pengolahan. Apabila koperasi mampu memproduksi gula konsumsi maupun gula merah, produk tersebut dapat dipasarkan melalui jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang tengah dikembangkan pemerintah. Selain itu, koperasi juga didorong mengembangkan industri turunan berbasis tebu, termasuk produk pangan seperti kecap.
Untuk mendukung pengembangan usaha tersebut, Kementerian Koperasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) akan membuka akses pembiayaan bagi pengembangan bisnis Koperasi KANA. Ketua Koperasi Konsumen KANA Lautan Berkat, Jonathan Danang Wardhana, menyebut kerja sama dengan Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi koperasi di sektor produksi dan distribusi gula. Ia menambahkan, pengembangan bisnis koperasi tersebut juga mendapat dukungan mitra internasional dari Swiss yang melihat potensi besar koperasi sektor riil di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri, Desi Permatasari, berharap kolaborasi ini mampu memberikan manfaat langsung bagi petani dan memperkuat kontribusi koperasi terhadap peningkatan produksi gula nasional.


