AFI Sebut koperasi Desa Merah Putih Sulit Saingi Waralaba, Ini Alasannya

Ringkasan AI
Ringkasan
Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menilai koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) sulit menyaingi jaringan waralaba tanpa prinsip koperasi dan model bisnis yang kuat. Ketua Kehormatan AFI, Anang Sukandar, menegaskan koperasi harus didirikan oleh anggota dengan kepentingan ekonomi yang sama.
Ia mencontohkan koperasi Centrale Fresland di Belanda yang berawal dari peternak sapi perah dan berkembang menjadi perusahaan susu global. Menurut Anang, koperasi tanpa kesiapan bisnis hanya menjadi wadah formal yang tidak mampu bersaing dengan waralaba bersistem modern.
Dampak
Pernyataan ini menjadi peringatan bagi pemerintah agar tidak hanya fokus pada pendirian KDMP, tetapi juga kesiapan usaha dan manajemen di lapangan. Keberhasilan koperasi desa bergantung pada keaktifan anggota dan kebutuhan ekonomi bersama.
Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menilai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) tidak akan mudah menyaingi jaringan waralaba apabila tidak dibangun berdasarkan prinsip dasar koperasi dan model bisnis yang kuat. Ketua Kehormatan AFI, Anang Sukandar, mengatakan keberhasilan koperasi tidak cukup hanya mengandalkan dukungan program pemerintah, melainkan harus lahir dari kebutuhan para anggotanya sendiri.
"Koperasi pada dasarnya didirikan oleh para anggotanya, bukan oleh pihak lain apalagi konglomerat," ujar Anang saat dihubungi, Senin (11/5). Ia menjelaskan koperasi dibentuk oleh kelompok yang memiliki kepentingan ekonomi sama, seperti petani, nelayan, atau peternak. Dengan prinsip tersebut, anggota koperasi sekaligus menjadi pemilik dan pengguna layanan koperasi.
Anang mencontohkan koperasi Centrale Fresland atau yang lebih dikenal sebagai Susu Bendera di Belanda. Koperasi tersebut bermula dari kumpulan peternak sapi perah dan kini berkembang menjadi perusahaan susu global. "Pemiliknya memang para peternak yang menjadi anggota koperasi, sehingga menjadi contoh koperasi yang berkembang dengan benar," katanya.
Menurut Anang, banyak koperasi gagal berkembang karena tidak memenuhi prinsip dasar tersebut. Akibatnya, koperasi sulit menciptakan efisiensi dan daya saing yang dibutuhkan untuk bersaing dengan pelaku usaha modern, termasuk jaringan waralaba. Ia menilai waralaba memiliki keunggulan berupa sistem bisnis teruji, standar operasional seragam, merek kuat, serta konsep pemasaran jelas. Sementara itu, koperasi yang dibentuk tanpa kesiapan model bisnis berisiko hanya menjadi wadah formal tanpa kemampuan berkembang berkelanjutan.
Anang juga menyoroti pentingnya skala ekonomi yang memadai. Ia mencontohkan satu fasilitas produksi sebaiknya dapat melayani beberapa unit usaha sekaligus agar operasional lebih ekonomis. Selain itu, penerapan prinsip Pareto dan pengelolaan usaha secara profesional dinilai krusial dalam pengembangan koperasi.
Karena faktor-faktor tersebut sering diabaikan, Anang menilai KDMP belum tentu dapat menjadi pesaing serius bagi waralaba. "Apabila hanya mengandalkan pembentukan kelembagaan tanpa memperhatikan aspek bisnis, hasilnya tidak akan optimal," tegasnya. Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pendirian koperasi, tetapi juga memastikan kesiapan usaha dan kapasitas manajemen di lapangan.



