Kelompok Tani, Komunitas, & koperasi Bawa Ketahanan Pangan di Jatim

Ringkasan AI
Ringkasan
Tiga wilayah di Jawa Timur memperkuat ketahanan pangan melalui koperasi, komunitas, dan kelompok tani. Di Lamongan, koperasi Tani Ternak Literasi mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik dan mengelola 235 ekor sapi, sementara Komunitas Organik Brenjonk di Mojokerto mengelola 18 hektar lahan organik yang dipasok ke jaringan supermarket Surabaya. Di Nganjuk, Gapoktan Karya Abadi memproduksi 12.000 ton bawang merah per tahun, menyumbang 25-30 persen produksi nasional.
Dampak
Pemberdayaan berbasis komunitas ini menciptakan lapangan kerja bagi pemuda, mengubah limbah ternak menjadi produk bernilai ekonomi, serta memperkuat rantai pasok pangan daerah. Pendampingan Bank Indonesia sejak 2023 turut mendukung keberlanjutan usaha pertanian organik dan peternakan di tingkat desa.
Beberapa wilayah di Jawa Timur berhasil mengembangkan model pemberdayaan masyarakat untuk mendukung ketahanan pangan melalui kelompok tani, koperasi, dan komunitas lokal. Inisiatif tersebut tersebar di Kabupaten Lamongan, Mojokerto, hingga Nganjuk dengan pendekatan yang berbeda-beda.
Di Kabupaten Lamongan, Koperasi Tani Ternak Literasi yang berlokasi di Desa Sumbersari, Kecamatan Sambeng, menjadi contoh pemberdayaan berbasis kandang komunal berkelanjutan. koperasi ini awalnya merupakan kelompok ternak biasa yang membudidayakan sapi jenis limosin, simental, dan sapi lokal sejak 2022, lalu berkembang mengelola sapi potong, pupuk organik, warung sate, layanan akikah, hingga edukasi peternakan. Ketua Koperasi Tani Ternak Literasi, Tomi Distianto, menjelaskan bahwa koperasi mengembangkan pengolahan limbah melalui Bank Literasi atau Bank Limbah Ternak Sumbersari. Limbah kotoran ternak yang sebelumnya menjadi masalah pencemaran lingkungan kini diolah menjadi pupuk organik bermerek Literasi yang sudah dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk di luar Lamongan. Saat ini koperasi memiliki total sekitar 235 ekor sapi dengan sekitar 70 ekor berada di kandang koloni, serta 70 ekor kambing dan domba yang sebagian hasilnya menyuplai warung sate milik koperasi. Pengembangan koperasi ternak ini mendapat dukungan Bank Indonesia sejak 2023 dan semakin intensif pada 2025 melalui Program Sarana Akselerasi Agribisnis Cluster berupa pembinaan, pendampingan, hingga bantuan infrastruktur. Omzet per bulan koperasi mencapai lebih dari Rp 50 juta dari berbagai usaha sapi, domba, warung sate, dan penjualan pupuk.
Pemberdayaan serupa juga dilakukan Komunitas Organik Brenjonk di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, yang berdiri sejak 2007 dengan 109 anggota yang didominasi ibu rumah tangga dan pemuda. Komunitas ini mengelola lahan seluas 18 hektar yang telah tersertifikasi organik, meliputi pekarangan dan area klaster padi organik. Komunitas bermitra dengan Badan Usaha Milik Desa untuk edukasi pertanian organik serta mendistribusikan hasil bumi organik ke sejumlah supermarket di Surabaya, termasuk Transmart, Hokky, Papaya, dan Superindo. Dukungan Bank Indonesia sejak 2018 berupa edukasi eco-interpreter menghasilkan 13 unit warung kuliner organik dengan pendapatan kotor mulai dari Rp 4 juta hingga Rp 60 juta per bulan, serta menyerap sekitar 50 anak muda. Komunitas juga menjalankan Sekolah Lapang Pertanian Organik dengan 30 hingga 35 siswa per angkatan.
Di Nganjuk, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Abadi di Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso, membudidayakan bawang merah dari bibit hingga produk olahan. Kelompok tani ini menghasilkan 12.000 ton bawang merah per tahun dengan hampir 500 mitra petani yang mengelola lahan seluas 284 hektar. Nganjuk tercatat sebagai daerah penyuplai bawang merah nasional terbanyak, yakni 25 persen hingga 30 persen, dengan luas tanam sekitar 20 ribu hektar dan produksi mencapai 300 ribu ton per tahun.



