Dari Pekarangan ke Merah Putih: Ketika Ketahanan Pangan Tak Lagi Cukup Sekadar Menanam

Ringkasan AI
Ringkasan
Sumatera Selatan masih memproduksi pangan lewat sawah dan pemanfaatan pekarangan, tetapi tetap rentan saat harga cabai naik dan distribusi terganggu. Pemerintah daerah menilai persoalan ketahanan pangan tidak berhenti pada produksi, melainkan pada sistem pascapanen seperti distribusi, pembiayaan, dan akses pasar.
Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) sejak 2021 mendorong penanaman cabai dan urban farming untuk menekan inflasi pangan, dan data pemda menyebut tren inflasi pangan menurun. Untuk memperkuat nilai ekonomi hasil panen, koperasi Merah Putih diposisikan sebagai penghubung produksi warga dengan distribusi dan pemasaran.
Dampak
Bagi warga dan petani kecil, penguatan kelembagaan koperasi ditujukan untuk memperbaiki posisi tawar, akses modal, dan kestabilan harga saat panen melimpah atau pasar terganggu. Bagi daerah, integrasi produksi rumah tangga dengan rantai pasok lebih terorganisasi menjadi kunci menjaga stabilitas pasokan dan pengendalian inflasi.
Sawah di Sumatera Selatan masih terbentang, cabai dan bawang tetap tumbuh di pekarangan warga, serta kelompok tani dan gerakan PKK terus bergerak menjaga tanaman di halaman rumah. Namun setiap kali harga cabai melonjak atau pasokan pangan tersendat, keresahan masyarakat kembali muncul. Kondisi ini menegaskan ironi daerah yang memiliki sumber daya pangan besar, tetapi tetap rentan terhadap gejolak harga dan gangguan distribusi.
Kerentanan itu dinilai tidak lagi semata soal kemampuan menanam, melainkan soal sistem ekonomi setelah panen. Selama ini, banyak program ketahanan pangan berhenti di tahap produksi: warga diajak menanam, bibit dibagikan, panen dirayakan, lalu hasilnya berjalan sendiri-sendiri tanpa penyangga kelembagaan yang kuat. Saat harga turun petani kecil terpukul, ketika distribusi terganggu akses pasar menyempit, dan ketika modal menipis produksi kembali melemah.
Di tengah situasi tersebut, Sumatera Selatan memiliki modal sosial melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang diinisiasi sejak 2021. Program ini mendorong masyarakat menanam cabai dan memanfaatkan pekarangan rumah, sekaligus membangun kesadaran bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari akar rumput. GSMP lahir dari kondisi nyata ketika inflasi pangan beberapa tahun terakhir menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi daerah, dengan fluktuasi harga cabai, bawang, dan beras berulang kali menjadi penyumbang utama inflasi.
Evaluasi dan data pemerintah daerah disebut menunjukkan GSMP mulai memberi dampak pada stabilitas pangan dan pengendalian inflasi. Tren inflasi pangan Sumsel diklaim menurun setelah GSMP berjalan aktif sejak 2021, seiring penguatan ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan, urban farming, dan pemberdayaan komunitas lokal. Meski demikian, capaian tersebut dinilai menyimpan tantangan baru karena ketahanan pangan tidak bisa berhenti di level rumah tangga.
Agar menjadi kekuatan ekonomi daerah, produksi warga perlu terhubung dengan distribusi, pembiayaan, dan pasar yang lebih kuat. Pada titik ini, koperasi Merah Putih dipandang penting karena koperasi dapat menjadi penggerak ekonomi rakyat di tingkat akar rumput, bukan sekadar lembaga administratif. GSMP disebut telah membangun kesadaran untuk memproduksi pangan secara mandiri, sementara koperasi Merah Putih diharapkan menjadi gerakan menjaga nilai ekonomi hasil panen rakyat.
Selama ini, salah satu masalah terbesar petani kecil dan kelompok pangan komunitas ialah lemahnya posisi tawar akibat produksi kecil, distribusi yang tidak terorganisasi, akses pembiayaan yang terbatas, serta harga yang kerap ditentukan pasar tanpa perlindungan memadai. Dampaknya, ketika panen melimpah keuntungan tidak maksimal dan keberlanjutan produksi terganggu. Penguatan kelembagaan koperasi tani dinilai menjadi kebutuhan logis agar gerakan ketahanan pangan dapat naik kelas, sekaligus memperbaiki rantai distribusi, pembiayaan, dan pemasaran hasil pertanian masyarakat.


