Menkop Ajak BUMN Bangun Industri Olahan Pangan demi Hidupkan Kopdes Merah Putih

Ringkasan AI
Ringkasan
Menteri koperasi Ferry Juliantono meminta dukungan Komisi VI DPR untuk mendorong Kementerian BUMN memproduksi pangan olahan guna membangun ekosistem Kopdes Merah Putih (KDMP) sebelum beroperasi penuh pada Maret–April 2026. Ia menilai industri pangan olahan masih didominasi swasta, sehingga keterlibatan BUMN diperlukan untuk membentuk rantai pasok dan pengolahan.
Agrinas diarahkan menggarap bisnis pascapanen seperti rantai pendingin, penyimpanan, dan rak pengering, sedangkan ID Food diminta memproduksi olahan seperti kecap dan saus sambal. Ferry menargetkan pembangunan pabrik sekitar enam bulan dan menegaskan tujuan awal KDMP adalah memotong rantai distribusi pangan di desa.
Dampak
Jika ekosistem pengolahan dan distribusi terbentuk, KDMP diharapkan memperpendek rantai pasok melalui gerai pangan desa sehingga akses dan harga lebih terjangkau serta memperkuat posisi petani dan pelaku usaha lokal. Menteri Pertanian menyebut pemangkasan rantai pasok dari delapan titik menjadi tiga titik melalui KDMP berpotensi meningkatkan daya beli pangan hingga 50%.
Menteri koperasi Ferry Juliantono meminta dukungan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mendorong Kementerian BUMN memproduksi pangan olahan. Ferry menilai langkah ini diperlukan untuk membangun ekosistem koperasi Daerah Merah Putih (KDMP) sebelum beroperasi penuh pada Maret–April 2026. Ia menyebut produksi pangan olahan saat ini masih didominasi sektor swasta.
Menurut Ferry, pengoperasian Kopdes Merah Putih dapat menjadi pemicu agar perusahaan milik negara ikut masuk ke sektor pangan olahan. Ia menilai keterlibatan BUMN penting agar rantai pasok dan industri pengolahan terbentuk seiring dimulainya operasional KDMP. “Langkah ini penting untuk membangun ekosistem koperasi Daerah Merah Putih (KDMP) sebelum beroperasi penuh pada Maret–April 2026,” ujarnya.
Dalam rencana yang disampaikan, Agrinas disebut akan berfokus pada bisnis pascapanen. Fokusnya meliputi pengembangan rantai pendingin, fasilitas penyimpanan (storage), dan rak pengering untuk memperkuat penanganan hasil panen. Sementara itu, ID Food diarahkan mulai memproduksi produk olahan seperti kecap atau saus sambal agar ekosistem yang menopang KDMP bisa segera terbentuk.
Ferry memperkirakan pembangunan pabrik pangan olahan dapat dilakukan dalam waktu sekitar enam bulan hingga Maret–April 2026. Ia juga menyebut pengoperasian pabrik olahan dapat membuka jalan agar Kopdes Merah Putih masuk ke sektor produksi dan industri. Namun, ia menegaskan tujuan awal pembentukan Kopdes Merah Putih adalah memotong rantai distribusi pangan di desa.
Menurut Ferry, koperasi tersebut akan memperpendek rantai distribusi karena memiliki gerai pangan. Dengan rantai yang lebih singkat, ia berharap akses dan harga pangan di tingkat desa menjadi lebih terjangkau. Skema ini juga diharapkan memperkuat posisi petani dan pelaku usaha lokal dalam penyaluran komoditas.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman optimistis koperasi Desa Merah Putih bisa memotong rantai pasok pangan dan meningkatkan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan hingga 50%. Amran menyatakan rantai pasok pangan nasional dapat mencapai delapan titik dan menilai optimalisasi KDMP akan memangkasnya menjadi tiga titik, yakni petani, KDMP, dan konsumen. Ia mencontohkan, masyarakat yang saat ini hanya mampu membeli beras 1 kilogram dapat meningkat menjadi 1,5 kilogram jika rantai pasok lebih pendek, sekaligus menekan total keuntungan yang dinikmati pelaku dalam delapan titik rantai pasok lewat pelibatan koperasi Desa Merah Putih.



